Buntu Kabobong Untuk…

Bagikan :

Marno Pawessai, seusai melepas tanggung jawabnya sebagai Pelaksana Tugas (PLT) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Sidrap – Enrekang di Konferensi V yang berlangsung di Pendopo Rujab Bupati Enrekang, Sabtu (8/1/2021) mengajak, sahabat dekat Ibrahim Manisi — he he he, (tabe saya sendiri) menghadiri syukuran kenaikan pangkat Kompol Jufri Natsir (Wakasat Reskrim) Poltabes Makassar di Warkop Galuh kota Cakke, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang. Atas ajakan H.Purmadi Muin (Ketua Terpilih PWI Kabupaten Sidrap).

Baca Juga :  Jalin Sinergitas Polres Sidrap Bersama PWI Sidrap - Enrekang. Begini Penuturan Kapolres dan Edy Basri...

Sampai di kawasan gunung Bamba Puang – suami Nur Rahmawati. MP (Alumni Pesantren Haji Andi Liu-Cakke) ini, mengajak saya mampir sejenak menikmati indahnya panorama alam Massenrempulu.

Marno yang juga Ketua Seksi Organisasi PWI Provinsi Sulawesi Selatan ini menjelaskan, kepada saya tentang cerita sebuah gunung unik yang sejak sudah menjadi obyek wisata dunia. Itulah gunung nona. Gunung ini oleh masyarakat di daerah itu menyebutnya “Buntu Kabobong” (Bahasa Duri).

Baca Juga :  Jumpa Pers Kadisdik Parepare, Tak Punya Android Murid Diantarkan Modul

Menjawab pertanyaan saya, Marno yang juga Pemimpin Umum media Merpos ini menjelaskan, kaya Buntu artinya gunung sedang kata Kabobong itu adalah “panggilan” untuk jalur keluarnya janin pada kaum Hawa. Coba lihat ke arah timur sana, ujar Marno mengajak saya melihat ke sebuah bukit yang mirip alat vital nona- nona. “Makanya orang Indonesia menyebutnya “gunung nona,” ulas Marno Pawessai yang mengaku berguru organisasi PWI sejak tahun 2000 dari Ibrahim Manisi, yang akrab disapa Pak Ima.

Baca Juga :  Wujudkan kemitraan, Polres Pinrang Gelar Coffee Night

Buntu Kabobong Untuk...

Dari kiri Kompol Jufri Natsir (Wakasat Reskrim Polrestabes Makassar) Muh.Nur (Ketua PWI Pinrang), Marno Pawessai dan H.Purmadi Muin (Ketua PWI Sidrap) Foto : Nurmas/Merpos

Comment