Makna Idul Adha Dimata NGO

Spread the love

PAREPARE, MNC – Umat Islam kembali merayakan hari besarnya, setelah 3 bulan lalu merayakan Idul Fitri. Dalam Islam beberapa hari besar menjadikan agenda rutin setiap tahunnya diperingati. Perayaan dimaksudkan untuk menempa setiap muslim demi mencapai derajat tinggi selaku hamba Allah.

Idul Adha yang diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah juga dikenal dengan sebutan Hari Raya Haji, dimana kaum muslim dari berbagai penjuru sedang menunaikan haji utama yaitu wukuf di Arafah. Semua memakai pakaian serba putih tak berjahit disebut pakaian ihram lambang persamaan akidah dan pandangan hidup. Memiliki tatanan nilai persamaan dalam segala bidang kehidupan.

Tidak dapat dibedakan diantara mereka, semua merasa sederajat. Sama-sama mendekatkan diri kepada Allah yang maha perkasa sambil bersama-sama membaca kalimat talbiyah.

Ahad 11 Agustus 2019, umat muslim dari berbagai latar belakang. Serentak menunaikan ibadah shalat Ied, mesjid dan lapangan dipenuhi jamaah. Beberapa kalangan menilai ritual keagamaan semacam Idul Qurban dapat dimaknai sesuai latar belakang profesi.

Memaknai Idul Adha berdasar latar profesi merupakan kreativitas pemikiran. Pemaknaan terhadap Idul Adha kali ini antara lain, datang dari ketua Divisi Investigasi LSM SOROT INDONESIA Rusdi Juraij. Ia mengatakan momen Idul Adha hendaknya dapat dimaknai secara tepat dan proporsional.

“Setiap kita seyogianya dapat memaknai Idul Adha bukan hanya sebatas hari besar Islam, pemaknaan secara tepat dan proporsional akan membawa kita pada tahap satu tingkat lebih tinggi, yakni lebih implementatif dalam beragama. Momen-momen penting dalam agama ini tentu saja mengandung ajaran dan nilai-nilai positif” kata Rusdi.

Disamping itu lanjut alumni IAIN ini, menurutnya memang ada ketentuan syariat yang secara jelas, dirumuskan dalam hukum hukum Islam tentang ibadah pada Idul Qurban ini. Namun lebih dari itu alangkah baiknya setiap ajaran tersebut kita maknai, berupaya menangkap lebih dalam esensi lalu diimplementasikan sesuai konteks profesi masing-masing.

“Contoh dalam pelaksanaan wukuf di padang Arafah. Wukuf ini mengandung makna berhenti, semua aktivitas duniawi dihentikan lalu beralih kepada pengabdian konsentrasi penuh kepada Allah sang pencipta. Tujuannya agar kita bisa sampai kepada maqam arif billah (mengenal Allah), mengenal diri yang penuh dengan keterbatasan, sementara ibadah qurban melatih batin kita agar terlepas dari sifat bakhil” kata Rusdi mencontohkan.

Sehingga menurut Rusdi yang juga salah satu Dewan Redaksi merpos com ini, seorang jurnalis hendaknya lebih rutin berkontemplasi menyelami hakikat tugas jurnalistik itu sendiri. Setiap jurnalis hakikatnya mengemban amanah mulia sebagai pemberi informasi, pelaku amar makruf nahi mungkar dan menghibur.

Setiap kalimat yang tersampaikan merupakan amal saleh, dan menjadi bekal di akhirat kelak. Berkat jasa seorang jurnalis masyarakat jadi tahu, terlindungi dan tercerahkan.

“Demikian pula dalam ibadah qurban, seorang jurnalis dalam menjalankan profesinya terkadang pada momen tertentu. Dituntut pengorbanan lebih melalui goresan penanya, menjalankan fungsi pers lainnya demi hadirnya sejuta maslahah bagi segenap umat manusia. membela orang-orang yang termarjinalkan secara ekonomi dan status sosial” kata Rusdi menandaskan.(NURMAS/MNC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *