PINRANG, MERPOS – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang, menunjukkan ketimpangan yang mencolok. Berdasarkan investigasi MERPOSnews.com di lapangan, terjadi perbedaan performa yang signifikan, antara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah tersebut, yang memicu pertanyaan terkait profesionalisme pengelolaan program nasional ini.
Di satu sisi, SPPG Pekkabata 2 menunjukkan konsistensi yang tinggi. Pengelola SPPG Pekkabata 2, Samsul Rijal, mengonfirmasi bahwa hingga Jumat (8/5), pihaknya masih melayani distribusi ke 13 sekolah dengan total mencapai 2.900 porsi per hari.
“Jadwal pengantaran tergantung permintaan sekolah, biasanya kami antar jam 07.30 sampai 10.00. Kami juga memastikan menu bervariasi setiap hari, seperti ayam dan telur, agar siswa tidak bosan,” ujar Samsul.
Proses manajemen logistik di SPPG Pekkabata 2 berjalan sistematis, termasuk pengambilan kembali wadah makan (ompreng) tepat waktu setelah siswa selesai makan.
Pemandangan berbeda justru terjadi pada SPPG Lampa Timur. Program MBG di wilayah ini dilaporkan lumpuh selama satu bulan penuh. Akibatnya, sejumlah Sekolah Dasar (SD) di wilayah Lampa Timur, tidak mendapatkan pasokan nutrisi yang menjadi hak para siswa.
Pihak manajemen SPPG Lampa Timur sebelumnya berdalih bahwa, penghentian sementara ini disebabkan oleh proses rehabilitasi dapur. Serta adanya penyesuaian administrasi akibat penambahan dua SD dan satu TK baru, sebagai penerima manfaat.
Temuan ini menimbulkan tanda tanya besar bagi publik dan pemerhati kebijakan di Pinrang. Jika SPPG Pekkabata 2 mampu mengelola hampir 3.000 porsi setiap hari tanpa kendala teknis yang berarti, alasan “rehabilitasi dapur” dan “penambahan sekolah” yang diajukan SPPG Lampa Timur dinilai tidak sebanding dengan durasi penghentian layanan yang mencapai satu bulan.
Kondisi ini memerlukan evaluasi mendalam dari pihak terkait, agar distribusi program MBG tidak bersifat tebang pilih, dan memastikan seluruh siswa di Kecamatan Duampanua mendapatkan hak gizi yang sama. Tanpa hambatan birokrasi maupun teknis yang berlarut-larut. NASRI NONA/IRJAS








