BARRU, MERPOS – Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Khaeriah yang terletak di Kelurahan Sumpang Minangae, Kecamatan Barru, kini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Sekolah yang menjadi tumpuan pendidikan bagi puluhan generasi sejak tahun 1964 ini, mengalami kerusakan berat yang mengancam kenyamanan serta keselamatan siswa dalam menimba ilmu.
Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi bangunan seluas 195 m² tersebut mengalami kerusakan di hampir seluruh bagian utama, mulai dari atap yang bocor, plafon yang mulai lapuk, hingga lantai yang hancur. Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan ruang kelas yang membuat suasana belajar terasa sesak dan panas.
Kepala MI Al-Khaeriah, Dra. I Sarimba, mengungkapkan bahwa pihaknya terpaksa melakukan inovasi darurat demi memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan. Dengan hanya memiliki tiga ruang kelas untuk melayani 93 siswa, pihak sekolah berinisiatif membagi ruangan menggunakan sekat tripleks seadanya.
”Kami hanya punya tiga ruang kelas, jadi kami sekat sendiri pakai tripleks supaya cukup. Bahkan, ruangan yang sempit itu kami fungsikan ganda sebagai kantor, ruang guru, sekaligus perpustakaan,” ujar I Sarimba saat memberikan keterangan kepada MERPOS.
Saat ini, MI Al- Khaeriah dibina oleh 12 tenaga pendidik, yang terdiri dari 3 guru PNS, 3 guru ASN P3K, dan sisanya merupakan tenaga honorer yang tetap berdedikasi meski di tengah keterbatasan fasilitas.
Meski fasilitas fisik jauh dari kata layak, semangat juang siswa – siswi MI Al – Khaeriah tidak lantas padam. Terbukti, madrasah ini pernah mengharumkan nama Kabupaten Barru dengan meraih juara di tingkat kabupaten, dalam Kompetisi Sains Madrasah (KSM) dan menjadi wakil menuju tingkat provinsi.
”Kami ingin menunjukkan bahwa keterbatasan sarana bukan penghalang untuk berprestasi. Namun, ketimpangan fasilitas antara madrasah swasta dan sekolah negeri masih sangat terasa. Kami punya potensi, tapi gedung kami tidak lagi layak,” tambahnya.
Pihak sekolah mengaku telah berupaya mengajukan proposal bantuan rehabilitasi gedung ke berbagai instansi, termasuk Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada respons positif maupun realisasi bantuan yang diterima.
I Sarimba berharap pemerintah Kabupaten Barru, Kantor Kementerian Agama, maupun pihak swasta dapat memberikan perhatian serius untuk merenovasi sekolah yang sudah berdiri selama 62 tahun, tanpa sentuhan renovasi besar tersebut.
”Kami sangat berharap ada bantuan rehabilitasi agar siswa dapat belajar dengan aman dan nyaman, serta guru-guru kami bisa bekerja dengan lebih layak. Ini demi masa depan anak-anak kita di Barru,” tutupnya. GAR/SAT








